Tuesday, July 8, 2014

Stasiun Gambir Jakarta, Menanti Pagi Sempurna


Kabut terakhir,
           perlahan surut ke arah barat
merecikkan sosok sunyi,
          di bangku tunggu yang berangin
sejauh itu jua percakapan,
          meresonansi di rahang ruang sendat
stasiun di mana kota jantungmu di mana
          menjanjikan segala pertarungan

Bersiap-siaplah, berdamai dengan hati
          masuk suaramu, tebaran mega biru
memburu fajar di mana,
          pelintasan membayangi pelintasan
pergumulan akan dimulai lagi
          segala padang kristal gemuruh adegan
sekian cerita, kenangan dan gigi waktu
          memahat-mahat siang malammu segera
terjaring langkahmu dalam pusaran jakarta


(Umbu Landu Paranggi, Jakarta, Oktober 1969)


Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 241-242). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, 22 Februari 1970.



No comments:

Post a Comment