Blog ini khusus didedikasikan untuk Mahaguru Penyair Umbu Landu Paranggi. Blog ini berisikan puisi-puisi karya beliau, tulisan-tulisan dan foto-foto perihal beliau. Selamat menikmati.
Labels
- Foto-foto Umbu (16)
- Puisi Umbu Periode Bali (8)
- Puisi Umbu Periode Yogyakarta (30)
- Tulisan Perihal Umbu (19)
- Video Umbu (9)
Showing posts with label Foto-foto Umbu. Show all posts
Showing posts with label Foto-foto Umbu. Show all posts
Tuesday, July 15, 2014
Sunday, July 13, 2014
Pertemuan Dua Presiden Penyair, 2010
Pertemuan Dua Presiden Penyair
![]() |
| (Sutardji Calzoum Bachri, Janet DeNeefe, Umbu Landu Paranggi) |
Pertemuan Sutardji Calzoum Bachri dan Umbu Landu Paranggi
boleh jadi hal yang lumrah saja. Namun, mengingat peran dan mitos mereka selama
ini sebagai tokoh perpuisian Indonesia, tak pelak perjumpaan dua sahabat lama
ini mengandung sekian kemungkinan arti dan juga tafsir tersendiri: sebuah kilas
balik sekaligus refleksi akan kehidupan susastra Indonesia di masa depan.
Dalam tahapan sejarah sastra Indonesia, keduanya terbilang
angkatan 1970-an, yang tumbuh senyampang kemelut dan tragedi sosial politik
tahun 1965. Apabila Chairil Anwar dan rekan-rekan seniman segenerasinya,
melalui ”Surat Gelanggang”, memaklumatkan sebagai ahli waris yang sah dari
kebudayaan dunia serta menegaskan diri sebagai ”binatang jalang” yang meradang
dan menerjang (individualis), Sutardji-Umbu bersama sejawatnya malahan
menggaungkan kehendak untuk ”kembali ke akar”. Ini sesungguhnya tidak semata
pertarungan keyakinan antargenerasi, tetapi mencerminkan pula apa yang disebut
oleh para ahli sejarah sebagai ”jiwa zaman”.
Pertemuan Sutardji dan Umbu di sela-sela perhelatan Ubud
Writers and Readers Festival 2010 di Bali, bukanlah sesuatu yang direncanakan
atau bagian dari agenda festival itu. Di hadapan para seniman Indonesia dari
generasi yang lebih kini, mereka saling menunjukkan secara spontan kehangatan
persahabatan, yang sudah lebih dari 40 tahun tak bersua. Yang seketika
mengemuka adalah sisi-sisi pribadi, sentuhan manusiawi penuh keharuan. Mitos
yang selama ini membayang-bayangi eksistensi mereka di dunia sastra, dan
membuat keduanya tampak ”angker” dan berjarak dari keseharian, di mana
masing-masing menyandang sebutan yang serupa, Sutardji ”Presiden Penyair
Indonesia” dan Umbu ”Presiden Malioboro”, seketika cair. Umbu yang dikenal sebagai
sosok yang serba ”konon”, misterius, sulit ditemui, dan jarang hadir di ruang
publik, kali ini tampil ekspresif, terbuka, dan spontan. Sedangkan Sutardji,
yang hingga belakangan ini terus terpublikasi sebagai sosok nyentrik, heboh,
dan fenomenal, memperlihatkan bagian dirinya yang sehari-hari.
(Salyaputra, Kompas 24 Oktober 2010)
Umbu Landu Paranggi Memberikan Workshop Sastra di Karangasem, 2009
Umbu Landu Paranggi dan beberapa sastrawan Bali memberikan workshop kesusastraan di SMA 2 Amlapura, Karangasem, Bali, pada 25 Agustus 2009. Selain Umbu, hadir juga Nyoman Tusthi Eddy, Wayan Arthawa (alm), Wayan Redika (pelukis), IBW Keniten, Wayan Jengki Sunarta, Nuryana Asmaudi. Umbu sangat bersemangat meladeni murid-murid sekolah yang ingin belajar sastra. Pada era 1980-an dan 1990-an, Umbu rajin mengunjungi pelosok-pelosok Karangasem untuk menggairahkan semangat para penyair muda menulis puisi. Sumber foto : ?
Friday, July 11, 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)















































-.jpg)
