Showing posts with label Foto-foto Umbu. Show all posts
Showing posts with label Foto-foto Umbu. Show all posts

Tuesday, July 15, 2014

Umbu Landu Paranggi Menghadiri Pembukaan Pameran Seni Rupa "Kuta Art Chromatic", 30 Desember 2013.

Umbu Landu Paranggi menghadiri pembukaan pameran seni rupa "Kuta Art Chromatic", 
30 Desember 2013. Sumber foto : Jengki dan Dwija.


















Sunday, July 13, 2014

Pertemuan Dua Presiden Penyair, 2010


Pertemuan Dua Presiden Penyair

(Sutardji Calzoum Bachri, Janet DeNeefe, Umbu Landu Paranggi)

Pertemuan Sutardji Calzoum Bachri dan Umbu Landu Paranggi boleh jadi hal yang lumrah saja. Namun, mengingat peran dan mitos mereka selama ini sebagai tokoh perpuisian Indonesia, tak pelak perjumpaan dua sahabat lama ini mengandung sekian kemungkinan arti dan juga tafsir tersendiri: sebuah kilas balik sekaligus refleksi akan kehidupan susastra Indonesia di masa depan.

Dalam tahapan sejarah sastra Indonesia, keduanya terbilang angkatan 1970-an, yang tumbuh senyampang kemelut dan tragedi sosial politik tahun 1965. Apabila Chairil Anwar dan rekan-rekan seniman segenerasinya, melalui ”Surat Gelanggang”, memaklumatkan sebagai ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia serta menegaskan diri sebagai ”binatang jalang” yang meradang dan menerjang (individualis), Sutardji-Umbu bersama sejawatnya malahan menggaungkan kehendak untuk ”kembali ke akar”. Ini sesungguhnya tidak semata pertarungan keyakinan antargenerasi, tetapi mencerminkan pula apa yang disebut oleh para ahli sejarah sebagai ”jiwa zaman”.


Pertemuan Sutardji dan Umbu di sela-sela perhelatan Ubud Writers and Readers Festival 2010 di Bali, bukanlah sesuatu yang direncanakan atau bagian dari agenda festival itu. Di hadapan para seniman Indonesia dari generasi yang lebih kini, mereka saling menunjukkan secara spontan kehangatan persahabatan, yang sudah lebih dari 40 tahun tak bersua. Yang seketika mengemuka adalah sisi-sisi pribadi, sentuhan manusiawi penuh keharuan. Mitos yang selama ini membayang-bayangi eksistensi mereka di dunia sastra, dan membuat keduanya tampak ”angker” dan berjarak dari keseharian, di mana masing-masing menyandang sebutan yang serupa, Sutardji ”Presiden Penyair Indonesia” dan Umbu ”Presiden Malioboro”, seketika cair. Umbu yang dikenal sebagai sosok yang serba ”konon”, misterius, sulit ditemui, dan jarang hadir di ruang publik, kali ini tampil ekspresif, terbuka, dan spontan. Sedangkan Sutardji, yang hingga belakangan ini terus terpublikasi sebagai sosok nyentrik, heboh, dan fenomenal, memperlihatkan bagian dirinya yang sehari-hari.

(Salyaputra, Kompas 24 Oktober 2010)

Umbu Landu Paranggi Memberikan Workshop Sastra di Karangasem, 2009

Umbu Landu Paranggi dan beberapa sastrawan Bali memberikan workshop kesusastraan di SMA 2 Amlapura, Karangasem, Bali, pada 25 Agustus 2009. Selain Umbu, hadir juga Nyoman Tusthi Eddy, Wayan Arthawa (alm), Wayan Redika (pelukis), IBW Keniten, Wayan Jengki Sunarta, Nuryana Asmaudi. Umbu sangat bersemangat meladeni murid-murid sekolah yang ingin belajar sastra. Pada era 1980-an dan 1990-an, Umbu rajin mengunjungi pelosok-pelosok Karangasem untuk menggairahkan semangat para penyair muda menulis puisi. Sumber foto : ?
















Umbu Landu Paranggi Sedang Bersantai di Studio Pelukis Made Budhiana, 2005

Umbu Landu Paranggi sedang bersantai di studio pelukis Made Budhiana di kawasan Ubung, Denpasar. Foto-foto ini diambil 18 Mei 2005. Sumber : ?







Umbu Landu Paranggi dan Kuda Putih

Umbu Landu Paranggi dan Kuda Putih di sehampar pantai di Bali. Foto thn 2000.


Umbu Landu Paranggi Sedang Mengoreksi Puisi, Th 2000


Umbu Landu Paranggi saat bekerja memilih dan mengoreksi puisi-puisi untuk edisi Bali Post Minggu. Pada saat-saat seperti ini, Umbu tidak boleh diganggu.




Foto-foto Umbu Landu Paranggi tahun 2000

Foto-foto Umbu Landu Paranggi tahun 2000. 
Sumber: dokumentasi Jengki

















Friday, July 11, 2014

Foto puisi tulisan tangan Umbu Landu Paranggi

(Puisi Kuda Merah tulisan tangan Umbu Landu Paranggi)



(Puisi Kuda Putih tulisan tangan Umbu Landu Paranggi)

Umbu Landu Paranggi dan Mantra Pengantar

(Umbu Landu Paranggi dan Mantra Pengantar, 2000-an awal. Sumber foto : ist)

Umbu Landu Paranggi membaca puisi di Fakultas Sastra, Universitas Udayana, 1996

(Umbu Landu Paranggi membaca puisi di Fakultas Sastra, Universitas Udayana, 1996. Sumber foto : Zen Hae)



(Umbu Landu Paranggi membaca puisi di Fakultas Sastra, Universitas Udayana, 1996. Sumber foto : Zen Hae)


(Umbu Landu Paranggi, Zawawi Imron, dan Tan Lioe Ie, 1996)


Umbu Landu Paranggi bersama perupa

(Umbu Landu Paranggi, Pande Gede Supada, dan Made Wianta, era 1990-an awal. Sumber: ist)

Umbu Landu Paranggi sedang membaca puisi, era 1980-an

Umbu Landu Paranggi sedang membaca puisi, era 1980-an...(sumber foto : ist )




Wednesday, July 9, 2014

Umbu Landu Paranggi bersama para penyair muda Bali di era 1980-an.


Umbu Landu Paranggi bersama para penyair muda Bali di era 1980-an. Sumber foto : Made Artha



Umbu Landu Paranggi, era 1980-an

Foto-foto Umbu Landu Paranggi era 1980-an. Sumber foto : Made Artha






(Umbu Landu Paranggi. Sumber foto : Made Artha)

Umbu Landu Paranggi sedang melatih I Gusti Putu Bawa Samar Gantang deklamasi puisi

(Umbu Landu Paranggi sedang melatih I Gusti Putu Bawa Samar Gantang deklamasi puisi. Sumber: Bali Post era 1980-an)

Umbu Landu Paranggi, 1979

(Umbu Landu Paranggi, 1979. Sumber: Bali Post)